02005 2200409 4500001001900000005001500019035002200034007000300056008004100059040001200100043001200112100001600124245012600140250003400266300004400300504003300344020001800377041000800395082001600403084001900419090001900438260003900457500002800496520079100524521000901315651005501324651003701379700003101416700002701447710003801474850001201512990001801524990002301542990001001565990001001575990001001585BKTDB071020130006420260730020940 a0013-071013006460ta240913s2003||||jki| g | 000 m ind d aSBPKHAT aa-io---0 aAmrin Imran10aPDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dalam perang kemerdekaan /cAmrin Imran, Saleh A. Djamhari dan J.R. Chaniago aCetakan Kedua, September 2005 axxxi, 334 halaman :bilustrasi ;c21 cm aBibliografi halaman: 329-334 a979-96217-1-20 aind142[23]a959.8 aKH 959.8 AMR p aKH 959.8 AMR p aJakarta :bCitra Pendidikan,c2003 aIndeks halaman: 317-327 aPemerintah darurat ini bukan saja mampu mengarhkan dan mengendalikan perjuangan kemerdekaan di dalam negeri, termasuk operasi gerilya yang dilaksanakan secara didesentralisasi penuh, tetapi juga mengadakan kontak berlanjut dengan delegasi Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kurun pemerintahan PDRI diakhiri secara elegan. Walaupun secara pribadi para tokoh PDRI merasa sangat tersinggung karena Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta setuju untuk berunding sewaktu mereka masih berada dalam tawanan – karena itu sesungguhnya tidak layak untuk berunding atas nama Pemerintah Republik Indonesia – dan nampaknya sama sekali tidak berusaha untuk mengontak PDRI, mereka akhirnya memutuskan untuk menerima perkembangan sejarah tersebut sebagai suatu kenyataan. aUmum 4aIndonesia--xPolitik dan pemerintahan--y1942-1949 4aIndonesia--xRevolusi, 1945-19490 aSaleh A. DjamharigPenulis0 aJ.R. ChaniagogPenulis0 aPerhimpunan kekerabatan Nusantara aSBPKHAT a234/PPBH/2008 a00708/B1/PPBH/2014 a30601 a30600 a30599