03011 2200373 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059040001200100043000800112245008800120250002000208300003800228504003700266041000800303082002100311084002000332264006000352336002100412337003000433338002300463520028200486520164000768600003802408600004102446850001202487990002202499990002402521990002302545990002402568990002302592990002202615INLIS00000000053919320251206090045 a0010-1019000040ta251206 g 0 ind  aSBPKHAT aaio aKehormatan Bagi Yang Berhak : Bunga Karno Tidak terlibat G30S/PKI /cManai Sophiaan aCetakan Pertama a330 halaman :bIlustrasi ;c21 cm aBibliografi : halaman. 317 - 318 aind aKH 322.42 MAN k aKH 322.42 MAN k aJakarta :bYayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa,c1994 2rdacontentaTeks 2rdamediaaTanpa Perantara 2rdacarrieraVolume aBuku ini mengungkapkan praktik-praktik "machiavellisme", baik yang dilakukan oleh individu, kelompok, maupun kekuasaan. Akibat kemenangan "machiavellisme" pada berbagai kasus, maka sejarah pun mencatat terjadinya tragedi yang mengguncangkan rasa keadilan (Manai Sophiaan, 1994) aBuku analisis historis dan politik yang bertujuan meluruskan persepsi publik mengenai posisi Presiden Soekarno dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Berdasarkan dokumen, kesaksian, dan pengamatan langsung sebagai saksi sejarah, Manai Sophiaan menyusun argumen bahwa Bung Karno tidak terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dukungan terhadap gerakan tersebut. Penulis menelusuri dinamika politik menjelang 1965, termasuk hubungan Soekarno dengan Angkatan Darat, Partai Komunis Indonesia, serta kekuatan politik lainnya yang saling berebut pengaruh di tengah ketegangan nasional dan internasional. Buku ini membedah proses pengambilan keputusan Bung Karno, langkah-langkahnya sesudah peristiwa, serta ketidaksesuaian narasi yang berkembang dengan fakta-fakta yang dicatat waktu itu. Selain menelaah faktor-faktor yang menyebabkan Soekarno dituduh terlibat, Manai Sophiaan menguraikan bagaimana perubahan kekuasaan setelah G30S turut membentuk opini publik dan historiografi resmi, yang menurutnya tidak selalu berlandaskan pada bukti yang objektif. Melalui analisis tajam dan pembacaan ulang sumber-sumber primer, buku ini mempertahankan bahwa Bung Karno menjadi korban politisasi dan pembentukan citra negatif yang disengaja. Dengan gaya penulisan yang argumentatif dan dokumentatif, karya ini berupaya merehabilitasi nama baik Bung Karno serta mengajak pembaca melihat kembali peristiwa 1965 dengan perspektif kritis dan proporsional. Buku ini menjadi rujukan penting bagi peneliti sejarah politik Indonesia, pemerhati Soekarno, dan siapa saja yang ingin memahami dinamika kekuasaan serta konstruksi narasi mengenai G30S/PKI. 4aGerakan Tigapuluh September, 1965 4aIndonesia - Politik dan Pemerintahan aSBPKHAT a0055/BH2/PPBH2025 a00222/BH1/PPBH/2015 a01267/B1/PPBH/2018 a17881/BK1/PPBH/2019 a01232/B1/PPBH/2018 a0054/BH1/PPBH2025