02511 2200349 4500001002100000005001500021035002000036006001800056007000300074008003900077040002200116100008100138245013500219250003500354300003100389020002200420041000800442082001700450084001700467264005100484264004700535336002100582337003000603338002300633520138100656650001802037700002502055850001202080990002302092990002302115990002302138INLIS00000000091334120200227031153 a0010-0220000659a g 000 0ta200227t2013 yoi g 000 0 ind aSBPKHATbinderda0 aIman Budi Santosa,d1948- ( penulis )dIman Budi Santosa,d1948- ( penulis )10aManusia Jawa mencari kebeningan hati :bmenuju "tata hidup, tata krama, tata prilaku" /cIman Budi Santosa ; editing, Iin Parliena aCetakan pertama, Desember 2013 aviii, 181 halaman ;c20 cm a978-602-1612-05-7 aInd042[23]a181.82 a181.82 IMA m 1aYogyakarta :bDiandra Pustaka Indonesia,c2013 2aYogyakarta :bCV. Diandra Primamitra media 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aSungguh sebuah kasunyatan yang tak terbantahkan, tragis sekaligus memilukan. Bahwa ketika indonesia (termasuk tanah jawa) telah menangi rejaning jaman (mengalami zaman dan kehidupan yang lebih baik), banyak orang justru tengah berada dalam kebingungan dan kegelapan. Nuraninya tertutup awan hitam, sehingga matahari,bulan, maupun bintang gemintang tak mampu memberikan penerangan dan pencerahan sama sekali. Akibatnya, langkah maupun perjalanan hidupnya senantiasa mengalami sasar-susur (kesasar atau tersesat ), terus menerus menyimpang dari angger-angger (aturan-aturan) dan wewaler (melanggar larangan). Tak henti-hentinya melanggar tata susila, menerjang norma-norma kemanusiaan, melecehkan hak asasi, dan tega menumbuhkembangkan angkara murka merajalela dimana-mana. Hidup dengan senantiasa mengandalkan beningnya hati,sungguh bukan mudah. Karena terbukti dimana-mana banyak terjadi benturan dan malapetaka karena ulah manusia sendiri. Artinya, ketika jutaan orang benar-benar berusaha memayu hayuning bawana (berbuat baik dengan memelihara kelestarian dan keindahan bumi seisinya) serta mewujudkan kehidupan yang tata tentrem kerta raharja (makmur, tertata, tentram, aman, selamat, dan sejahtera), yang lain juga sibuk mengembangkan diri menjadi virus-bakteri demi meraih kepentingannya sendiri, demi memuaskan nafsu angkara murka yang telah tumbuh di seluruh pori-pori. 4aFilsafat Jawa0 aIin Parlienaeeditor aSBPKHAT a8604/BH1/PPBH/2019 a8605/BH2/PPBH/2019 a8606/BH3/PPBH/2019