<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
 <record>
  <leader>     na                 </leader>
  <controlfield tag="001">INLIS000000000956995</controlfield>
  <controlfield tag="005">20200629113050</controlfield>
  <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">0010-0620000118</subfield>
  </datafield>
  <controlfield tag="006">aa   g b    000 0</controlfield>
  <controlfield tag="007">ta</controlfield>
  <controlfield tag="008">200513r2017    xx a   g b    000 0 ind</controlfield>
  <datafield tag="040" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
   <subfield code="b">ind</subfield>
   <subfield code="e">rda</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="100" ind1="0" ind2=" ">
   <subfield code="a">Tiwi Astuti (penulis)</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="245" ind1="1" ind2="0">
   <subfield code="a">Untung berlimpah dari budidaya kambing /</subfield>
   <subfield code="c">Tiwi Astuti</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="250" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Cetakan I, 2017</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">100 halaman :</subfield>
   <subfield code="b">ilustrasi ;</subfield>
   <subfield code="c">21 cm</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="504" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Bibliografi : halaman 99</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">978-602-73349-6-0</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">ind</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="082" ind1="0" ind2="4">
   <subfield code="2">[23]</subfield>
   <subfield code="a">636.301</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">636.301 TIW u</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2="1">
   <subfield code="a">[tempat terbit tidak teridentifikasi] :</subfield>
   <subfield code="b">Shira Media,</subfield>
   <subfield code="c">2017</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2="2">
   <subfield code="a">Yogyakarta :</subfield>
   <subfield code="b">Solusi Distribusi,</subfield>
   <subfield code="c">[tahun distribusi tidak teridentifikasi]</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2="2">
   <subfield code="a">Yogyakarat :</subfield>
   <subfield code="b">CV. Solusi Distribusi,</subfield>
   <subfield code="c">[tahun distribusi tidak teridentifikasi]</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="336" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacontent</subfield>
   <subfield code="a">teks</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="337" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdamedia</subfield>
   <subfield code="a">tanpa perantara</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="338" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacarrier</subfield>
   <subfield code="a">volume</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="520" ind1="3" ind2=" ">
   <subfield code="a">Usaha peternakan kambing di Indonesia telah dikenal sejak dahulu, namun pengetahuan tentang dimulainya proses domestikasi dabn pembudidayaan ternak kambing dari hewan liar masih langka. Adanya berbagai jenis kambing asli di Indonesia seperti kambing kacang, kambing samosir, dan kambing marica menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah mengenal jenis jenis kambing setidaknya melalui pemanfaatannya sebagai hasil perburuan.Kambinmg mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, daging yang dihasilkan bernutrisi tinggi, susunya baik untuk kesehatan, dan kulitnya berguna untuk membuat berbagai macam kerajinan. Untuk beternak kambing modal diperlukan pun tidak terlalu tinggi. Kedatangan bangsa-bangsa Tiongkok, India, Arab, Eropa, dan lain-lain yang juga membawa ternak kambing dari negara asalnya sehingga terjadi perkawinan silang antara kambing asli dengan kambing dari luar yang menghasilkan kambing keturunan atau peranakan di berbagai daerah di Indonesia. Tetapi masih terdapat ternak kambing asli. Dengan demikian terjadilah tiga kelompok besar bangsa ternak kambing yaitu: pertama, kelompok kambing yang masih asli yang belum tercampur darah dengan ternak luar; kelompok kedua adalah kelompok &quot;peranakan&quot; yaitu bangsa ternak kambing yang telah bercampur darah dengan bangsa ternak kambing luar.; kelompok ketiga adalah bangsa ternak kambing luar yang masih diperkembangbiakan di Indonesia, baik murni dari satu bangsa atau yang sudah bercampur darah antara sesama bangsa ternak kambing luar tersebut.Buku ini menjelaskan tentang pedoman beternak dua jenis kambing, yaitu kambing lokal atau kambing kancang dan kambing etawa. Pembahasan yang dimuat termasuk cara beternak, perawatannya, hingga analisis hasil usaha yang bisa dijadikan patokan untuk menghitung pendapatan.</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Ternak kambing</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="850" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">20826/BH3/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">20824/BH1/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">20825/BH2/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
 </record>
</collection>
