<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
 <record>
  <leader>     na                 </leader>
  <controlfield tag="001">INLIS000000000957755</controlfield>
  <controlfield tag="005">20201202023843</controlfield>
  <controlfield tag="006">a    g      000 0</controlfield>
  <controlfield tag="007">ta</controlfield>
  <controlfield tag="008">201020                g          0 ind  </controlfield>
  <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">978-602-422-332-8</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">0010-1020000271</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="040" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
   <subfield code="b">ind</subfield>
   <subfield code="e">rda</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">ind</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="082" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">322.159 8</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">322.159 8 SAI n</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="100" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Saidurrahman</subfield>
   <subfield code="e">Pengarang</subfield>
   <subfield code="e">Saidurrahman</subfield>
   <subfield code="e">Pengarang</subfield>
   <subfield code="e">Saidurrahman</subfield>
   <subfield code="e">Pengarang</subfield>
   <subfield code="e">Saidurrahman</subfield>
   <subfield code="e">Pengarang</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="245" ind1="1" ind2=" ">
   <subfield code="a">Nalar kerukunan :</subfield>
   <subfield code="b">merawat keragaman bangsa mengawal NKRI /</subfield>
   <subfield code="c">TGS. Prof. Dr. K.H. Saidurrahman, M.Ag., Dr. H. Arifinsyah, M.Ag.</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="250" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Edisi pertama</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Jakarta :</subfield>
   <subfield code="b">Prenadamedia Group (Divisi Kencana),</subfield>
   <subfield code="c">2018</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">xviii, 272 halaman ;</subfield>
   <subfield code="c">23 cm</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="336" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacontent</subfield>
   <subfield code="a">teks</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="337" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdamedia</subfield>
   <subfield code="a">tanpa perantara</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="338" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacarrier</subfield>
   <subfield code="a">volume</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="504" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Bibliografi : halaman 265-270</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Manusia sebagai makhluk beragama saat ini berada dalam situasi yang sangat memprihatinkan, seakan â??homo homini lupusâ? (manusia serigala bagi manusia lain). Belakangan ini secara transparan dipertontonkan di hadapan kita, di sana sini terjadi anarkisme, pembakaran rumah ibadah, mengusir dan membunuh orang yang sedang beribadah, kekerasan terhadap pemuka agama, teroris, dan peledakan bom yang menewaskan banyak orang, kezaliman penguasa terhadap rakyatnya, rasisme, penembakan imam dan pemuka agama, pelarangan berhijab, pelarangan berpuasa dan lain sebagainya, sehingga manusia beragama haus dan dahaga terhadap perdamaian dunia. Mereka sudah cukup lama membosankan hubungan persengketaan dalam beragama. Satu sisi, agama bisa merupakan jeritan dari manusia yang tertindas. Pada sisi lain, agama bisa juga menjadi sahabat setia dari mereka yang kesakitan, kesepian, dan yang kehilangan harga diri. Agama juga tampil dalam semangat profetis yang tegar berbicara tentang perlunya pembaruan masyarakat serta mengingatkan para penguasa untuk mengedepankan perikemanusiaan universal. Agama secara keseluruhan menampung seluruh pengalaman dialog yang berkesinambungan antara manusia dengan keabadian. Agama dalam hubungan ini tetap merupakan ruang pembebasan di mana segala harapan dan persoalan yang mereka hadapi bisa dipikirkan secara mendalam dengan menampilkan nalar kerukunan. Adakah cara yang lebih baik untuk mempersiapkan masa depan kecuali dengan nalar yang cerdik, lugas dan cerdas, tanpa pemaksaan dan kekerasan? Adakah cara yang lebih baik untuk membangun masyarakat kecuali dengan menghargai harkat dan martabat manusia dan juga menghargai hak hidup serta integritas dari keyakinan-keyakinan religius mereka?</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Agama dan negara - Indonesia</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Agama, Kerukunan</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="700" ind1="0" ind2=" ">
   <subfield code="a">Arifinsyah</subfield>
   <subfield code="e">Pengarang</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="850" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">1202/BU1/PPBH/2020</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">1203/BU2/PPBH/2020</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">1204/BU3/PPBH/2020</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">1205/BU4/PPBH/2020</subfield>
  </datafield>
 </record>
</collection>
