03651 2200505 4500001002100000005001500021035002000036006001800056007000300074008003900077040002200116043001200138100002000150245017500170250002000345300003400365504002500399505002300424020003200447041001300479082002200492084002200514264005700536264001900593336002100612337003000633338002300663500001100686500002900697500010000726500006700826520117100893520072102064651002502785651004902810651003302859651002202892700002902914700003102943740008702974850001203061990002403073990002403097990002403121INLIS00000000100940420201108011406 a0010-1120000384aa g 001 0ta201108t2017 jkia g 001 0 ind aSBPKHATbinderda aa-io---1 aBartels, Dieter10aDi bawah naungan gunung Nunusaku :bMuslim-Kristen hidup berdampingan di Maluku Tengah /cProf. Dr. Dieter Bartels ; penerjemah, Frans Rijoly ; penyunting, Andya Primanda aCetakan pertama aJilid 2 :bilustrasi ;c23 cm aTermasuk bibliografi0 aJilid II : Sejarah a978-602-424-151-3 (Jilid 2) aenghind042[23]a915.985 223 a915.985 223 BAR d 1aJakarta :bKPG (Kepustakaan Populer Gramedia),c2017 4aDieter Bartels 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aIndeks aYang diterima : jilid II aJudul asli : In the shadow of Mount Nunusaku : a sosio-cultural history of the Central Moluccas aTeks dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan dari bahasa Inggris aBuku ini terdiri dari dua jilid. Jilid pertama membahas hal-hal yang berisi kebudayaan di Maluku Tengah, sedang jilid kedua berisi tentang sejarah Maluku, khususnya Maluku Tengah. Jilid I, Tulisan-tulisan Bartels memberi perspektif yang utuh untuk memahami sistem dan nilai-nilai adat-istiadat di Maluku dalam relasinya dengan dinamika keberagamaan masyarakat. Dia menuntun kita untuk meyakini bahwa sistem kearifan lokal menyediakan berbagai instrumen rekonsiliatif yang dapat digunakan untuk membangun perdamaian di Maluku. Isinya sangat kaya dan luas bagi siapa pun yang mencoba menelusuri interaksi antara adat dan agama di Maluku (terutama Maluku Tengah) serta korelasinya dengan konflik dan perdamaian. Jili II, orang-orang Maluku telah hidup selama berabad-abad dalam suatu harmoni sosial dan religius. Namun sesudah kekuatan asing masuk ke Kepulauan Rempah-rempah â??demi sejumput cengkeh dan sekarung palaâ?, mereka pun menyesuaikan diri dengan kolonialisme Belanda. Orang-orang Muslim mulai limun dan orang-orang Kristen memanfaatkan peluang ekonomi dengan mengabdi sebagai tentara Belanda, penjajah yang telah menyatukan Nusantara sebagai satu negara. aBuku ini memberi perspektif yang utuh untuk memahami sistem dan nilai-nilai adat di Maluku dalam relasinya dengan dinamika keberagamaan masyarakat. Dan menuntun kita untuk meyakini bahwa sistem kearifan lokal menyediakan berbagai instrumen rekonsiliatif yang dapat digunakan untuk membangun perdamaian di Maluku (terutama Maluku Tengah). Kesetiaan kepada agama masing-masing tidak perlu membuat kita menjadi musuh akibat salah tafsir terhadap ajaran agama-agama tersebut. Ajaran agama perlu dibaca secara baru dengan menggunakan perspektif budaya yang menekankan persaudaraan, sehingga nilai-nilai agama yang mengusung kesetaraan dan pro-hidup lebih ditonjolkan daripada nilai-nilai yang memisahkan karena perbedaan. 4aMaluku--xKebudayaan 4aMaluku--xKehidupan sosial dan adat istiadat 4aMaluku--xKehidupan beragama 4aMaluku--xSejarah0 aFrans Rijolyepenerjemah0 aAndya Primandaepenyunting0 aIn the shadow of Mount Nunusaku : a sosio-cultural history of the Central Moluccas aSBPKHAT a26371/BH1/PPBH/2019 a26372/BH2/PPBH/2019 a26373/BH3/PPBH/2019