02028 2200397 4500001002100000005001500021035002000036006001900056007000300075008004100078040002200119245009800141250002000239300004300259020001800302041000800320082002000328084002000348264005700368336002100425337003000446338002300476490002500499500009100524520071100615600005801326650003701384700003001421700003301451700003401484710002801518850001201546990002401558990002401582990002401606INLIS00000000101041020201206085356 a0010-1220000146aa g 000 0bta201206s2017 jkic g bind  aSBPKHATbinderda10aBenny Moerdani /cpenyunting, Arif Zulkifli, Purwanto Setiadi, Widiarsi Agustina, Redaksi KPG aCetakan pertama axvi, 219 halaman :bilustrasi ;c16 cm a9786024243487 aind042[23]a92(Benny) aR 92(Benny) BEN 1aJakarta :bKepustakaan Populer Gramedia (KPG),c2017 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume0 aSeri buku saku Tempo aDiterbitkan atas kerja sama Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan Tempo Publishing aHampir tak ada palagan penting di negeri ini yang tak didatangi Leonardus Benjamin Moerdani. Selain berada di garis depan penumpasan pemberontakan PRRI/ Permesta (1958), ia juga menjadi ikon pembebasan Irian Barat (1962). Di bawah Soeharto, Benny Moerdani menjadi tokoh kontroversial. Dia tampil sebagai jenderal yang garang dalam Peristiwa Woyla (1981), Tragedi Tanjung Priok (1984), dan Operasi â??Petrusâ? (1982), bahkan terampil di dunia diplomasi dan kepengacaraan. Hari-hari terakhir hidupnya sulit dibayangkan: jenderal yang tangkas dan trengginas lunglai terkulai di kursi roda. Ia memang selapis babak dalam sejarah kontemporer Indonesia, tapi babak itu tak pernah lengkap, tak pernah jangkap.04aMoerdani, L. B.--d1932-2004q(Leonardus Benjamin),-- 4aJendral--vBiografizIndonesia--0 aArif Zulkifliepenyunting0 aPurwanto Setiadiepenyunting0 aWidiarsi Agustinaepenyunting2 aRedaksi KPGepenyunting aSBPKHAT a30820/BH1/PPBH/2019 a30821/BH2/PPBH/2019 a30822/BH3/PPBH/2019