03015 2200361 4500001002100000005001500021007000300036008003300039020002200072035002000094040002200114082001600136084001600152100006300168245016600231250002400397264003400421264003100455300003200486336002100518337003000539338002300569500001100592504003400603520184700637650002802484650001602512700004102528850001202569990002402581990002402605990002402629INLIS00000000107057320211104080939ta211104t20182011yoi g b 001 0 ind a978-602-8252-64-5 a0010-1121000347 aSBPKHATbinderda 2[23]a302.2 a302.2 IDI k aIdi Subandy IbrahimepenuliseIdi Subandy Ibrahimepenulis aKritik budaya komunikasi :b: budaya, media, dan gaya hidup dalam proses demokratisasi di Indonesia /cIdi Subandy Ibrahim ; editor, Sistha Oktaviana Pavitrasari aCetakan I, Mei 2018 aYogyakarta : Jalasutra,c2018 a©2015 Idi Subandy Ibrahim axviii, 372 halaman ;c23 cm 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aIndeks aBibliografi : halaman 339-358 aTidak dapat dipungkiri bahwa budaya media telah muncul dalam bentuk citra, bunyi, dan tontonan yang membantu membangun struktur kehidupan sehari-hari, mendominasi waktu luang, membentuk pandangan politik dan perilaku sosial, serta menyediakan landasan bagi kita untuk membangun identitas. Oleh karena itu, sebuah kritik budaya komunikasi yang membidik budaya media dan gaya hidup menjadi penting apalagi dalam kaitannya dengan konteks kekinian – proses demokratisasi di Indonesia. Pemaparan buku ini diawali dengan membahas persoalan krisis budaya dalam ruang publik. Yaitu, bagaimana wajah industri berita pasca Orde Baru, bagaimana dulu media massa berperan dalam masyarakat postmodern, serta bagaimana mediatisasi krisis di ruang publik yang sudah menjadi gambaran dari krisis umum budaya dalam ruang publik. Dari ragam jurnalisme yang berkembang di tengah berbagai krisis seperti WikiLeaks hingga merambah ke media sosial baru seperti Facebook yang ternyata mampu menjadi alat komunikasi politik yang efektif. Tidak ketinggalan, buku ini pun menyoroti permasalahan budaya kekerasan yang telah merasuki media. Penulis buku ini menangkap munculnya gejala teater nekrofilia dalam tayangan-tayangan televisi. Betapa kekerasan menjadi sebuah warna dari komoditas hiburan yang dikemas dalam bingkai ‘infotainment‘. Apabila demikian, akan menjadi apa kekuatan ‘mediakrasi’: teknologi demokrasi atau teknologi dominasi? Hedonisme di ruang publik juga menjadi sorotan kritik. Merebaknya berbagai bentuk komodifikasi dan hedonisasi gaya hidup menunjukkan indikasi krisis dan panik media yang berlangsung dalam dunia tontonn itu sendiri. Yang tak kalah menarik adalah ulasan mengenai perang budaya citra. Yaitu, bagaimana media mengonstruksi budaya citra di ruang publik, serta bagaimana media beroperasi dalam menghegemoni kesadaran kita. aKomunikasi dalam budaya aMedia massa aSistha Oktaviana Pavitrasarieeditor aSBPKHAT a21278/BH1/PPBH/2019 a21279/BH2/PPBH/2019 a21280/BH3/PPBH/2019