<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
 <record>
  <leader>     na                 </leader>
  <controlfield tag="001">INLIS000000001070573</controlfield>
  <controlfield tag="005">20211104080939</controlfield>
  <controlfield tag="007">ta</controlfield>
  <controlfield tag="008">211104t20182011yoi g b 001 0 ind</controlfield>
  <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">978-602-8252-64-5</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">0010-1121000347</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="040" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
   <subfield code="b">ind</subfield>
   <subfield code="e">rda</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="082" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">[23]</subfield>
   <subfield code="a">302.2</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">302.2 IDI k</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="100" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Idi Subandy Ibrahim</subfield>
   <subfield code="e">penulis</subfield>
   <subfield code="e">Idi Subandy Ibrahim</subfield>
   <subfield code="e">penulis</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="245" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Kritik budaya komunikasi :</subfield>
   <subfield code="b">: budaya, media, dan gaya hidup dalam proses demokratisasi di Indonesia /</subfield>
   <subfield code="c">Idi Subandy Ibrahim ; editor, Sistha Oktaviana Pavitrasari</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="250" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Cetakan I, Mei 2018</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Yogyakarta : Jalasutra,</subfield>
   <subfield code="c">2018</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">©2015 Idi Subandy Ibrahim</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">xviii, 372 halaman ;</subfield>
   <subfield code="c">23 cm</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="336" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacontent</subfield>
   <subfield code="a">teks</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="337" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdamedia</subfield>
   <subfield code="a">tanpa perantara</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="338" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacarrier</subfield>
   <subfield code="a">volume</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="500" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Indeks</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="504" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Bibliografi : halaman 339-358</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya media telah muncul dalam bentuk citra, bunyi, dan tontonan yang membantu membangun struktur kehidupan sehari-hari, mendominasi waktu luang, membentuk pandangan politik dan perilaku sosial, serta menyediakan landasan bagi kita untuk membangun identitas. Oleh karena itu, sebuah kritik budaya komunikasi yang membidik budaya media dan gaya hidup menjadi penting apalagi dalam kaitannya dengan konteks kekinian – proses demokratisasi di Indonesia. Pemaparan buku ini diawali dengan membahas persoalan krisis budaya dalam ruang publik. Yaitu, bagaimana wajah industri berita pasca Orde Baru, bagaimana dulu media massa berperan dalam masyarakat postmodern, serta bagaimana mediatisasi krisis di ruang publik yang sudah menjadi gambaran dari krisis umum budaya dalam ruang publik. Dari ragam jurnalisme yang berkembang di tengah berbagai krisis seperti WikiLeaks hingga merambah ke media sosial baru seperti Facebook yang ternyata mampu menjadi alat komunikasi politik yang efektif. Tidak ketinggalan, buku ini pun menyoroti permasalahan budaya kekerasan yang telah merasuki media. Penulis buku ini menangkap munculnya gejala teater nekrofilia dalam tayangan-tayangan televisi. Betapa kekerasan menjadi sebuah warna dari komoditas hiburan yang dikemas dalam bingkai ‘infotainment‘. Apabila demikian, akan menjadi apa kekuatan ‘mediakrasi’: teknologi demokrasi atau teknologi dominasi? Hedonisme di ruang publik juga menjadi sorotan kritik. Merebaknya berbagai bentuk komodifikasi dan hedonisasi gaya hidup menunjukkan indikasi krisis dan panik media yang berlangsung dalam dunia tontonn itu sendiri. Yang tak kalah menarik adalah ulasan mengenai perang budaya citra. Yaitu, bagaimana media mengonstruksi budaya citra di ruang publik, serta bagaimana media beroperasi dalam menghegemoni kesadaran kita.</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Komunikasi dalam budaya</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Media massa</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="700" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Sistha Oktaviana Pavitrasari</subfield>
   <subfield code="e">editor</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="850" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">21278/BH1/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">21279/BH2/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">21280/BH3/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
 </record>
</collection>
