02116 2200397 4500001002100000005001500021035002000036006001800056007001100074008004100085040002200126245014200148250003100290300003800321020002200359082002100381084002300402264005100425264005700476336002800533337003000561338002300591490004000614520076500654521000901419600004101428700003301469700002901502700003401531710002801565710004101593850001201634990002401646990002401670990002401694INLIS00000000107096320260915120155 a0010-1121000836a ff 000 0fc | |260915t20152018jkio g | 00 0bind|  aSBPKHATbinderda aHamengku Buwono IX :bpengorbanan sang pembela republik /cPenyunting, Seno Joko Suyono, Dody Hidayat, Agustina Widiarsi, dan Redaksi KPG aCetakan Ketiga, April 2018 a178 halaman :bilustrasi ;c23 cm a978-602-6208-38-5 a92(Hamengku) HAM aR 92(Hamengku) HAM aJakarta :bKepustakaan Populer Gramedia,c2018 aJakarta :bKPG (Kepustakaan Populer Gramedia),c2018 2rdacontentateks taktil 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume0 aSeri Buku Saku Tempo : Bapak Bangsa aMenceritakan HAMENGKU BUWONO IX merupakan figur fenomenal. Selama ini ia lebih dikenal sebagai tokoh kultural. Perannya di bidang politik dan ekonomi kerap tenggelam. Padahal, sepak terjangnya sebagai penyokong kaum republiken tak pernah henti. Hanya dalam tiga hari, Sultan menyatakan Yogyakarta bergabung ke dalam Republik Indonesia. Ketika Belanda mengklaim bahwa Republik Indonesia telah mati, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu berhasil mematahkan tuntutan tersebut. "Langkahi mayat saya dahulu," kata Sultan Hamengku Buwono IX kepada Jenderal Meijer yang hendak mengacak-acak keraton. Itu terjadi pada serangan umum 1 Maret 1949. Ia tak segan berbeda jalan dengan sahabatnya, Sultan Hamid II yang membangun konfrotasi terhadap Republik Indonesia. aUmum04aHamengku Buwono IX ,--d1912รข??19880 aSeno Joko Suyonoepenyunting0 aDody Hidayatepenyunting0 aAgustina Widiarsiepenyunting2 aRedaksi KPGePenyunting2 aYayasan Mitra Netraepengalih aksara aSBPKHAT a15242/BH3/PPBH/2019 a15240/BH1/PPBH/2019 a15241/BH2/PPBH/2019