<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
 <record>
  <leader>     na                 </leader>
  <controlfield tag="001">INLIS000000000884852</controlfield>
  <controlfield tag="005">20211202055741</controlfield>
  <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">0010-1221000090</subfield>
  </datafield>
  <controlfield tag="006">aa   g      000 0</controlfield>
  <controlfield tag="007">ta</controlfield>
  <controlfield tag="008">211202s2018    kbia   g      000 0 ind</controlfield>
  <datafield tag="040" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBHKHAT</subfield>
   <subfield code="b">ind</subfield>
   <subfield code="e">rda</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="100" ind1="0" ind2=" ">
   <subfield code="a">Sudarwanto Pujosantoso</subfield>
   <subfield code="e">penulis</subfield>
   <subfield code="e">penyunting</subfield>
   <subfield code="e">Sudarwanto Pujosantoso</subfield>
   <subfield code="e">penulis</subfield>
   <subfield code="e">penyunting</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="245" ind1="1" ind2="0">
   <subfield code="a">Demokrasi liberal (1950-1959) dan demokrasi terpimpin (1959-1966) /</subfield>
   <subfield code="c">penulis, Sudarwanto Pujosantoso ; editor, Sudarwanto Pujosantoso ; penyunting, Sudarwanto Pujosantoso</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="250" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Cetakan pertama, 2018</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">119 halaman :</subfield>
   <subfield code="b">illustrasi ;</subfield>
   <subfield code="c">21 cm</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="504" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Bibliografi : halaman 119</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">978-602-5705-03-8</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="082" ind1="0" ind2="4">
   <subfield code="2">[23]</subfield>
   <subfield code="a">321.8</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">321.8 SUD d</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2="1">
   <subfield code="a">Pontianak :</subfield>
   <subfield code="b">Derwati Press,</subfield>
   <subfield code="c">2018</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="336" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacontent</subfield>
   <subfield code="a">teks</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="337" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdamedia</subfield>
   <subfield code="a">tanpa perantara</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="338" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacarrier</subfield>
   <subfield code="a">volume</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Demokrasi liberal adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang berkiblat pada demokrasi. Liberal disini dalam artian perwakilan atau representatif. Dengan pelaksanaan konstitusi tersebut, pemerintahan Republik Indonesia dijalankan oleh suatu dewan menteri (kabinet) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen (DPR). Sistem multi partai pada masa demokrasi liberal mendorong untuk lahirnya banyak partai-partai politik dengan ragam ideologi dan tujuan politik. Demokrasi Liberal sendiri berlangsung selama hampir 9 tahun, dalam kenyataanya bahwa UUDS 1950 dengan sisten Demokrasi Liberal tidak cocok dan tidak sesuai dengan kehidupan politik bangsa Indonesia yang majemuk. Tahun 1950-1959 merupakan masa memanasnya partai-partai politik pada pemerintahan Indonesia. PNI dan Masyumi merupakan partai yang terkuat dalam DPR (Parlemen). Dalam waktu lima tahun (1950 -1955) PNI dan Masyumi secara bergantian memegang hegemoni poltik dalam empat kabinet yang pernah berlaku. Masing-masing partai politik selalu berusaha untuk menghalalkan segala cara agar tujuan partainya tercapai. Demi menyelamatkan negara maka presiden melakukan tindakan mengeluarkan keputusan Presiden RI No. 75/1959 sebuah dekrit yang selanjutnya dikenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Tujuan dikeluarkan dekrit adalah untuk menyelesaikan masalah negara yang semakin tidak menentu dan untuk menyelamatkan negara. Rakyat menyambut baik sebab mereka telah mendambakan adanya stabilitas politik yang telah goyah selama masa Liberal. Demokrasi Terpimpin berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966, yaitu dari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga Jatuhnya kekuasaan Sukarno. Disebut Demokrasi terpimpin karena demokrasi di Indonesia saat itu mengandalkan pada kepemimpinan Presiden Sukarno. Terpimpin pada saat pemerintahan Sukarno adalah kepemimpinan pada satu tangan saja yaitu presiden.</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Demokrasi liberal--</subfield>
   <subfield code="y">1950-1959</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Demokrasi kepemimpinan--</subfield>
   <subfield code="y">1959-1966</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="850" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">SBPKHAT</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">18701/BH2/PPBH/2019</subfield>
  </datafield>
 </record>
</collection>
